☪
Jadwal Sholat & DoaJadwal Sholat Akurat & Panduan Islami
❓ Pertanyaan

Pertanyaan: Apa itu ateis?

🏛️ hanefi
📗 Hukum Fiqih
Saudaraku yang terhormat, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Secara etimologis, kata ateis berarti "orang yang tidak percaya kepada Tuhan". Dalam terminologi Islam dan literatur fikih, konsep ini secara tepat dipadankan dengan istilah "zindiq", "mulhid", atau "dahri". Dalam sumber-sumber klasik Islam, orang-orang ini didefinisikan sebagai individu yang mengingkari keberadaan dan keesaan Sang Pencipta, kenabian, dan hari akhir. Dalam Al-Qur'an, klaim orang-orang yang memiliki pemikiran ini diberitakan sebagai berikut: "Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu).'" (QS. Al-Jasiyah: 24) Dalam kitab-kitab fikih mazhab Hanafi, terutama dalam Al-Mabsut karya Al-Sarakhsi dan Radd al-Muhtar karya Ibn Abidin, masalah ini dibahas dalam bab ilmu kalam dan akidah. Menurut fikih Hanafi, ateisme atau pengingkaran mutlak berarti menolak seluruh pokok-pokok keimanan, sehingga hal ini secara langsung memengaruhi status hukum seseorang dalam kaitannya dengan hukum-hukum Islam. Pendekatan bersama dari mazhab Hanafi, Syafii, Maliki, dan Hanbali periode klasik adalah bahwa membenarkan rukun iman Islam di dalam hati dan mengikrarkannya dengan lisan adalah satu kesatuan yang esensial. Seseorang yang mengingkari Sang Pencipta, secara kategori fikih, berada di luar akidah keimanan Islam. Dalam mazhab lain pula (misalnya dalam kitab Al-Umm karya Imam Syafii), status orang-orang yang mengingkari ini dinilai secara serupa dalam kerangka hukum akidah dan riddah (keluar dari Islam atau tetap berada di luar Islam). Namun, sebagai seorang ulama dan mukmin, kewajiban kita terhadap orang-orang yang memiliki pemikiran ini bukanlah dengan kemarahan, melainkan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan argumen yang logis. Sebagaimana Tuhan Yang Maha Tinggi berfirman dalam Al-Qur'an: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan bertuaralah dengan mereka cara yang baik." (QS. An-Nahl: 125) Menangani persoalan ini dengan dalil-dalil ilmiah dan rasional, menghilangkan keraguan, dan merepresentasikan kebenaran dengan cara yang sebaik-baiknya adalah kewajiban setiap Muslim. Saya memohon kepada Allah agar menganugerahi kita semua keimanan yang kokoh dan hikmah di atas jalan yang lurus (siratal mustaqim).
Authentic fatwas and answers according to the Quran and Sunnah.